Selasa, 17 September 2013

Puisi Pilihan Lomba Baca dan Musikalisasi Puisi - ATSU ke 12

Salam Teater.. !!


   Hey.., Hey., kembali lagi malam ini masih dengan aku, tary cheallic. masih ingat dengan postingan aku beberapa hari lalu? kalo masih sekarang aku mau share buat kamu para pecinta puisi. disini ada beberapa pilihan puisi yang akan diikutsertakan dalam AMUK TEATER SUMUT ke-12. check this out..



Puisi Pilihan Lomba Musikalisasi Puisi

Amuk Teater ke-12, Teater LKK Unimed

kategori usia 11-18 tahun



Atas Danau
karya R.P Sitanggang

Dari Parapat melengkung ujung pulau
kutemu keasingan dunia baru

Dari Parapat lewat danau
kutemu rindu lampau

Terlalu asing, terlalu haru
bukit kering musim kemarau
danau bening, kasih bening
matahari menyingsing, air mata kering
duka hilang kembali hati cerlang

Dari Parapat keliling danau
dari Parapat lewat danau
rindu kutemu, keasingan lampau

56-59, Samosir

Sumber: Buku Puisi Temu Sastrawan Sumatera Utara 1977; hlm. 37; *R.P Sitanggang, penyair Pematangsiantar.


Bagan Asahan
karya Sangkot Nongah S

ombak-ombak kecil
datang dari jauh
sebaris nelayan pun berlabuh
putih-putih gelombang
bagai sebilah pedang
waktu siang
pendapatan berbilang
pelabuhan terbentang
penjaga menanti
kerut muka
bagai hantu peri
nelayan terbata-bata
kesempatan terbuktunjukkan buku tua
penjaga membuka
senyum sinis
karena ada apa-apa

bagan asahan ini sayang
kampungku dan dusunku
mengharapkan kasih sayang
orang tua

pencari kepah
sehari suntuk dibuai gelombang
miring bahunya
mengepit galah
sesak napasnya
hitam kulitnya dijemur terik
kepah yang dikeruk
tak sebanding lumpur
yang didapat
itulah engkau pencari kepah
berembun pergi

Sumber: Buku Puisi Temu Sastrawan Sumatera Utara 1977; hlm. 25; *Sangkot Nongah S, penyair Tanjungbalai.


Kampung Hujan
               padangsidimpuan
karya Hasan Al Banna

adakah langitmu senantiasa mengasah pisau
tajam dan berkilau

mengirim irisan hujan ke pekarangan
menanam rindu ke kenangan

aku tak pernah mengenal setangkup payung
tiada jas hujan di almariku

aku bukan pengintai tempat berlindung
rindang pohon bukan hilir pelarianku

pakaianku dirajut dari kumparan angin
kain selimutku terbuat dari daging kabut

di sini, anak-anak hujan memahat liuk jalan
sampai ke pintu rumah

di kejauhan, inang hujan mengasuh lungkup bukit
dan lentang sawah-ladang

adalah gelipur lumpur
yang mengukir kakiku sekokoh jati

ialah gemulai sungai
yang menempa tubuhku setangguh batu

o pinak-pinak hujan
itulah air mata haru ibuku

o anak lelaki yang didekap ibu
itulah perantau perindu, aku

Medan, 2009

Sumber: Majalah Horison 2011.




Puisi Pilihan Lomba Baca Puisi

Amuk Teater ke-12, Teater LKK Unimed

kategori usia 15-22 tahun

 


Romansa Sungai Deli
karya S. Ratman Suras

Di jantungku engkau bedetak tenang
mengalir jernih sampai ke laut biru
membawa kabar damai dari hutan-hutan
pada kediaman gunung yang diam menghijau

tanah-tanah gembur, sawah ladang subur
tebu, karet, sawit, dan tembakau
membuat dunia terpukau

Engkau terus berdesir bersama semilir angin
nyanyian air yang jernih sampai ke hilir
bermuara pada hati laut yang biru
menampung segala resah jadi rindu
hilir-mudik perahu kayu membawa kabar
dari bandar-bandar besar

Wahai, Tuanku Guru Patimpus yang perkasa
datang dari Haro, di pertemuan muara Babura
mulai membangun huta-huta, menggambar dunia baru
di atas rumah panggung, berdirilah sebuah kampung

Di jantungku engkau terus berdetak
mengalir keruh sampai ke laut pilu
menampung segala rindu jadi sendu
hilir-mudik perahu kayu, dan kampung yang tumbuh
jelas terukir di abad-abad yang membatu
di hatimu

Sei Belutu, 2009


Morsala
karya Teja Purnama

Morsala, masih kudengar Sikambang Bandahari meratap
di balik batu kehilangan Tuan Puteri. Duka pun sepanjang gelombang
tak henti berkisah pada pasir pantai.

“Jangan sentuh aku, Janggi
Tubuh dan hatiku untuk sorga
Kujaga sepenuh nyawa.”

Janggi hitam
Hitam hatinya dibakar nafsu
Terkutuk jadi batu
dipukul tongkat akar bahar
Tuan Puteri

Air mata menggulir pipi
Tempuling sembilu menancap jiwa, pilu.
Betapa siksa kecantikan
Betapa mahal kehormatan
Sesaat-saat
hampa bertambah hampa
Dijemputnya musim
yang bertaut
di laut

Morsala, di balik karang nama Tuan Puteri
menyembunyikan tangis? Aku lihat air matanya mengudara,
mengambang
jadi mendung di kota yang memajang kehormatan
di etalase mimpi memanggil-manggil pembeli.

Morsala, Morsala
Biarlah aku abadi di sini
dalam ratapan Sikambang
merajut rindu
jadi sajadah

* * *

Medan Putri
karya M. Raudah Jambak

Dan
kepadamu aku bercerita
kepadamu segalanya kukisahkan
akulah si Guru Patimpus itu
mewariskan si Kolok
bermata pencaharian si sepuluh dua kuta
bertani dan menanam lada
akulah si Guru Patimpus itu
mewariskan si Kecik
menenun ilmu berguru ke Datuk kota Bangun

maka,
kepadamu aku serahkan
kepadamu sebuah kota didirikan
antara sungai Deli
sampai sungai Babura
sebuah benteng bersisa dinding
lapis bentuk bundaran, cikal bakal
si kampung Medan

Oiii,
Akulah si Guru Patimpus
semua duri kubuat hambus
semua onak kubuat mampus

dan
kepadamu aku bercerita
di tanah deli ini medan putri berdiri
maka,
kepadamu aku serahkan
sebagai catatan dalam ingatan

Medan, 2009

Sumber: A Rahim Qahhar dkk, Sketsa Kota, Dewan Kesenian Medan; hlm 22, 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar