Jumat, 18 Januari 2013

Pengalaman Bersepeda


PENGALAMAN  BERSEPEDA......
Sepeda..  apa yang ada dipikiran setiap orang ketika mendengar kata itu.. apakah besi bergagang dengan dua roda berjari? Atau kendaraan tanpa bahan bakar yang dikayuh oleh dua kaki manusia.apapun itu yang pasti benda tersebut  dapat membantu pekerjaan dan aktivitas manusia.
Nah.. kali ini aku mau berbagi cerita dan pengalamanku beberapa tahun yang lalu tentang bersepeda.
Sebelumnya perkenalkan, aku tari. Saat ini usiaku beranjak 19 tahun dan sudah duduk dibangku kuliah sebagai seorang mahasiswi jurusan pendidikan guru sekolah dasar di Universitas negeri medan.kembali dengan ceritaku, ketika itu usiaku berkisar 8 tahun dan masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar.aku seorang gadis kecil dengan rambut panjang sepinggang, bertubuh gempal dan pipi yang tembam. Kulitku yang putih menyebabkan aku sering dipanggil “amoy” oleh tetangga-tetanggaku.. tapi itu dulu.. jangan bandingkan dengan warna kulitku yang sekarang. Legam. Tak sanggup melihatnya. Aku tinggal di sebuah perumahan dinas TNI-AD. Yang dimana setiap sore anak-anak kecil seusiaku baik lelaki maupun perempuan selalu berkeliling-keliling menaiki sepeda mereka.
Awalnya aku sangat enggak suka dengan yang namanya sepeda.hal itu karena abangku yang selalu mengusiliku. anak lelaki berusia 9 tahun yang suka mengganggu adik perempuannya. Setiap naik sepeda di sekelilingku, dan melihat kearahku, pasti dia selalu dengan sengaja menabrakkan sepedanya kearahku lalu tertawa sampai puas. Pernah saat dia memboncengku dengan sengaja dia loncat dari atas sepeda dan membiarkan sepeda itu jalan dengan aku yang masih duduk diboncengannya. Tentu saja karena ketidakseimbangan sepeda itu akhirnya masuk kedalam parit beserta aku yang masih duduk diatasnya. Dan tidak ada kata lain selain nangis dan pulang kerumah dengan badan basah kuyub karena air parit. Setelah hari itu aku jadi sangat amat gak suka sama yang namanya sepeda,belum lagi ngebayangin wajah abangku yang lagi ngetawain aku.
Tetapi.., masih ada kata tetapi.aku punya rasa iri,cemburu atau apalah itu namanya..  kalo melihat teman-temanku berkeliling asrama dengan sepeda mereka. Dan ternyata, orang tua ku selalu memperhatikan tingkahku yang suka mengintip didepan jendela melihat aktivits teman-temanku. Sore itu aku duduk diteras depan rumah bersama anak tetanggaku yang lebih tepat disebut teman. Orang tuaku sedang pergi ada acara arisan di kantor . aku sih mengiyakan saja. Lalu tiba-tiba kami berdua mendengar suara sepeda motor bapakku. Aku pikir mereka sudah pulang. Yaa.. mereka emang sudah pulang. Tetapi ada yang tidak biasa. Mereka membaa sebuah sepeda mini berwarna biru dengan 4 roda. 2 roda besar depan belakang dan 2 roda kecil yang mengapit pada roda besar yang terletak dibagian belakangnya. Sepeda itu memiliki keranjang didepannya dan tempat duduk boncengan dibelakangnya. Tinggginya saat itu kira-kira sepinggangku. Sepeda itu masih berkilu dengan plastik lapis pembungkusnya. Aku teriak sambil loncat-loncat sambil berlari mengahampiri sepeda itu. Aku menuntun dan membawanya kehalaman rumah. Kebetulan waktu itu abangku lagi bersepeda dihalaman rumah. Dia mengayu sepedanya kearahku, dan aku masih sangat ingat kta-kata yang diucapkannya waktu itu.
‘’katanya benci.. katanya gag mau naik sepeda.. sok-sok’an.. jatuh nanti kau baru tau rasa.. kau kira kami mau ngajak keliling orang yang gak pande naik sepeda..? tidak la yauu...’’. ujarnya sambil kembali menaiki sepedanya dan mengitari aku.
 Aku menjerit dan menyuruhnya pergi. Dia hanya tertawa dan meninggalkan aku. lalu bapakku datang mendekatiku, dia membantu dan mengajari aku Naik sepeda dia menyuruhku duduk diatas sepeda. Pada waktu itu keseimbangan masih terjaga karena masih ada 2 roda kecil yang mengapit roda besar dibelakang. Aku mengayuh pedal sepeda itu sambil berpegangan pada stangnya. Bapakku dengan setia tetap berada disampingku. Tangan kirinya memegang stang sebelah kiri dan tangan kanan nya memegan tempat dudukku. Awalnya masih santai dan terasa menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku mengayuh sepeda sendiri.besoknya bapakku melepas 1 roda kecil yang mengapit sebelah kanan roda belakang. Waktu aku bertanya kenapa dilepas, dia hanya bilang “biar cepat bisa, pelan-pelan dilepas ban kecilnya. Nanti lama-lamacjadi lancar naik sepeda kaya kawan-kawannya’’. Aku mulai mencoba lagi dan bapakku tetap menemani disampingku. Awalnya emang susah dan aku sering jatuh. Ditambah lagi anak-anak kecil dan teman-temanku yang mengejekku. Tapi aku tidak peduli, yang ada dibenakku saat itu ‘’lihat saja kalo aku sudah bisa naik sepeda, ku tabrak kalian satu-satu pakai sepedaku...!! hhahahhahaha...”.
      Dua minggu setelah itu aku mulai lancar naik sepeda roda 3. Bapakku membuka 1 roda kecil yang mengapit 1 roda besar dibelakang. Aku langsung membayangkan bagaimana nanti kalo aku jatuh dan terlempar dai sepeda itu. Aku mulai menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan perlahan. 3 kali aku kayuh aku terjatuh.. aku tertawa dan mencoba lagi. Ternyata abangku sedang memperhatikanku, tiba-tiba dia datang dan langsung duduk diboncengan yang ada dibelakang.
“udah.., cepet dayung,, aku dibelakang biar gak jatuh kau.. naik sepeda aja susah kali, nmpak kali penakutnya..”. ejeknya.
“diamlah kau,...!!”.teriakku
      Aku mulai mengayuh lagi, kali ini saat kayuhan ketig aku tidak jatuh lagi.saat keseimbangan mulai hilang, abangku mencagakkan kedua kakinya ketanah sehingga aku tidak jatuh. Jadi ceritanya pernah sutu sore saat aku benar-benar sudah mulai berani naik sepeda, abangku mengajakku bermain kelapangan dan menyuruhku membawa sepeda.kami berjalan sambil menuntun sepeda. Setibanya dilapangan dia meletakkan sepedanya dipinggir. Lalu mulai membantuku naik sepeda. Saat itu aku benar-benar sudah lumayan mahir. Saat itu aku mengenakan baju tidur dengan rambut panjang yang dikuncir dua. Aku duduk disepeda sedangkn bangku duduk diboncengannya. Aku sangat senang dan sanking senangnya aku mengayuh sepeda itu kencang-kencang tanpa henti sehingga laju sepeda mulai tak terkendali. Aku mulai takut dan abangku berteriak.
“jangan kenceng-kencenglah teroottt...!!!”.
Tiba=tiba dia menarik rambutku dari belakang sehingga peganganku pada stang sepeda terlepas. Sepeda itu melaju cepat dan tak tentu arah. Kami pun terlempar dari sepeda. Kami berdua terjatuh saat sepeda itu menabrak pohon.aku menangis, dan gak mau pulang karena takut dimarahi ibu. Sebab stang sepedaku jadi baling akibat nabrak pohon itu. Tapi abangku tetap membujukku untuk pulang. Jadi hari itu aku pulang kerumah dengan kondisi acak-acakan dan berantakan. Hari itu adalah hari buruk untuk sepeda pertamaku dan aku. tetapi hari itu tidak bisa aku lupakan sampai hari ini. Nah.. begitulah cerita pengalamanku bersepeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar